Selasa, 27 November 2012
Membuktikan Keiritan Ford Ranger Lewat Jalur Pantura (Bagian 2)
Cruise control
Karena lalu lintas di jalan tol tidak terlalu ramai, cruise control pun dioperasikan. Akselerasi dilakukan sehalus mungkin sampai mencapai kecepatan optimal. Tombol di palang setir kanan diaktifkan dengan mode kecepatan dinaikkan atau diturunkan dengan simbol "+" atau "-". Setelah muncul indikator di panel meter berwarna hijau, kaki diistirahatkan dari pedal gas. Untuk menonaktifkannya cukup menginjak pedal rem. Lampu indikator pun mati, ang berarti cruise control tidak bekerja. Selama diaktifkan, kondisi konsumsi bahan bakar 5,1 kpl.
Di Brebes peserta kembali beristirahat dan ganti pengemudi. Perjalanan dilanjutkan ke Pekalongan. KompasOtomotif kembali berada di balik kemudi. Pada kesempatan kali ini waktunya menjajal cruise control pada jalan perkotaan. Beberapa cara ditempuh agar fitur tersebut bisa diaktifkan. Ternyata tidak mudah!
Kesimpulan,cruise control pada transmisi manual mulai dioperasikan dari 40 kpj. Syaratnya harus pada posisi gigi yang tepat. Jika terlalu tinggi,tidak mau aktif. Ternyata, metode tersebut sangat membantu, khususnya pada jalan bergelombang yang menimbulkan goyangan danmengganggu tekanan kaki terhadap pedal gas.
Pengukuran
Kemacetan kembali menghadang di perbatasan Kendal-Semarang dengan kondisi mirip saat orang pulang kantor di Jakarta. Dengan penuh kesabaran dan kondisi kaki yang sudah mulai pegal, akhirnya sampai di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Total jarak tempuh dengan waktu perjalanan 13 jam adalah 485 km dengan kecepatan rata-rata 47 kpj, sesuai dengan yang tercatatlayar informasi.
Juri dari BTMP-BPPT melakukan pengisian ulang untuk mengetahui solar yang terpakai. Proses dilakukan di tempat yang rata dan sudah diukur denga waterpas. Begitu pula dengan jumlah bahan bakar.
Hasil yang diperoleh, konsumsi bahan bakar paling irit yaitu 15,8 kpl oleh tim Ranger 1 dan paling boros 12,9 kpl Ranger 3. Sementara KompasOtomotif bersama tim mencatat hasil terbaik kedua yakni 15,2 kpl.
Dibandingkan dengan lomba serupa yang dilakukan di beberapa negara, Indonesia masih kalah dengan hasil yang diiperoleh di Thailand (20 kpl) dan Filipina (18 kpl). Menurut FMI, pada kedua negara tersebut, jalan yang dilalui tidak terlalu macet di Indonesia!
Sumber : Otomotif.kompas.com
Membuktikan Keiritan Ford Ranger Lewat Jalur Pantura (Bagian 1)
Ford Motor Indonesia (FMI) menggelar lomba irit bahan bakar Ranger pikap kabin ganda dengan melibatkan beberapa media ibukota sebagai peserta. Tujuannya, membuktikan salah satu dari 4 pilar janji Ford bahwa setiap produk globalnya adalah green (hijau). Rute yang dipilih, jalur niaga Tanjung Priok, Jakarta menuju Tanjung Mas, Semarang melewati pantai utara (pantura).
Varian yang digunakan adalah XLT 4x4 transmisi manual dengan mesin 2,2 liter, turbodiesel, 150 PS. Disediakan 6 unit yang memuat 4 wartawan di setiap mobil. Sebagai pengawas dan juri adalah BTMP-BPPT.
Mobil yang digunakan disiapkan dengan kondisi standar . Bagian tertentu dari mesindisegel. Peserta juga diminta memeriksa tekanan angin ban dan jumlah bahan bakar. Posisi pengaturan AC disegel, yaitu paling dingin dengan kecepatan blower level 2, sesuai dengan penggunaan sehari-hari.
Macet
Keluar dari Pelabuhan Tanjung Priok peserta berhadapan dengan lalu lintas ramai oleh truk kontainer, angkutan umum dan mobil pribadi. Ketangkasan memainkan pedal gas dan gigi langsung diuji. Kebetulan KompasOtomotif mendapat kesempatan mengemudi pada rute pertama berjarak 164 km. Untuk mengetahui kondisi irit, informasi konsumsi bahan bakar di layar panel dasbor langsung diaktifkan. Ternyata pergantian posisi gigi ideal di bawah 1.500 rpm. Butuh kesabaran dan konsentrasi lebih, sembari memperhatikan indikator tersebut juga harus menjaga irama bukaan gas.
Macet tidak berlangsung lama karena jalan tol tak tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Lepas dari gerbang tol Cikarang, peserta dibebaskan dari pengawalan polisi karena kondisi jalan mulai lengang. Pada kecepatan 80 kpj dan posisi gigi 6, mesin bekerja pada 1.500 rpm. Berada di belakang mobil dengan laju yang sama dapat membantu meringankan beban karena tidak langsung menghadapi hambatan angin. Terbukti, semula konsumsi bahan bakar 5,8 kpl berubah menjadi 4,6 kpl.
Luar kota
Lepas dari Cikampek, peserta langsung berhadapan dengan aktifitas jalur pantura, mulai dari angkutan kecil, sedang, bis sampai truk pengangkut barang dan kontainer. Ketrampilan kaki dan kesabaran mengontrol gas kembali diuji. Apalagi ketika mulai menemui pasar. Tantangan terberat adalah lampu lalu lintas, angkutan umum yang berhenti mendadak dan menghindari jalan rusak.
Rombongan beristirahat di pos 1, rumah makan Pringsewu, Indramayu, Jawa Barat setelah menempuh 164 km selama 4,5 jam.Perjalanan dilanjutkan menuju pos kedua di Mbok Berek, Brebes, berjarak 146 km. Tugas mengemudi diserahkan pada rekan media lain. Kondisi jalan masih sama saat melewati Indramayu sampai Tol Kanci Losari dengan jarak total 78 km.
Sumber : Otomotif.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)





